Entri Populer

Selasa, 15 November 2011

Fuah Pah

TRADISI FUAH PAH: RITUS  AGRARIS
 MASYARAKAT DAWAN - TIMOR


1. Pengantar

            Masyarakat Dawan sebagaimana masyarakat agraris lainnya di wilayah Nusantara, memiliki aneka tradisi lisan. Tradisi lisan seringkali berkaitan dengan bahasa-bahasa ritual dan upacara formal yang berlaku dalam masyrakat tersebut. Sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup masyarakat Dawan yang umumnya merupakan petani ladang kering, terdapat hubungan yang erat antara ritus dan mitos pertanian dengan keyakinan religius tradisional. Hal ini tampak dalam ritus Fua Pah[1].
            Ritus-ritus  yang dilaksanakan dalam masyarakat tradisional biasanya berkaitan dengan mitologi dan sistem kepercayaan masyarakatnya (mengenai Tuhan, roh, alam semesta, bumi, kerja). Khusus menyangkut pemujaan terhadap roh-roh leluhur maupun roh-roh lainnya, perlu dilakukan analisis yang cermat agar dapat dipahami prinsip dan orientasi kepercayaan lokal masyarakat suku ini.

2. Keadaan Alam dan Cara Hidup
            Wilayah Pulau Timor bagian barat yang merupakan bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dihuni oleh beberapa kelompok etnik, antara lain: Tetun, Bunak, Helong, Kemak dan Dawan, Rote dan Sabu. Suku bangsa dan bahasa Dawan[2] merupakan kelompok suku terbesar yang mendiami daratan Timor Barat itu.[3] Suku bangsa  Dawan mendiami beberapa daerah di wilayah Kabupaten Kupang. Selain itu, orang Dawan juga mendiami seluruh wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Oekusi (wilayah Timor Leste). Setiap kelompok etnis di NTT umumnya hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir-hampir eksklusif sifatnya, dengan masing-masing komunitas memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda.[4]
Kekhasan orang Dawan ini antara lain terlihat dari bentuk ragawinya yang merupakan percampuran antara unsur Melanesia dan Negrito, sehingga kalau seseorang berada di antara orang Dawan, mereka tidak merasa berada di antara orang Melayu. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Dawan.[5]
Mata pencaharian orang Dawan pada umumnya adalah bertani (bercocok tanam) dan beternak (memelihara ternak). Komposisi tanah, iklim, dan sumber air sangat berpengaruh terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial masyarakat Dawan. Keadaan tanahnya berupa tanah liat berpori yang mengandung kapur. Tanah jenis ini tidak mendukung tumbuhnya vegetasi penutup. Pada musim hujan, keadaan tanah banyak mengandung air, dan akan mengembang bila telah penuh air hujan. Pada saat musim kemarau, tanah menjadi rengkah dan sangat keras. Komposisi tanah dari batu kapur dan tanah liat ini berpengaruh terhadap adanya sumber air, yang banyak ditemukan di daerah dataran tinggi. Masalah sumber air ini menimbulkan bentuk pemukiman dan usaha pertanian yang berpusat di daerah pegunungan dan pengembangan usaha tani lahan (ladang) kering yang didominasi jagung dan palawija.[6]
            Dataran yang didominasi oleh lapisan tanah liat biasanya kurang sesuai bila digunakan sebagai lahan pertanian. Oleh sebab itu, penduduk memanfaatkan tanah yang terdiri dari campuran batu kapur dan tanah liat, di sekitar dataran tinggi untuk usaha taninya. Secara historis, penduduk mempraktikkan sistem usaha tani perladangan berpindah dengan teknologi tebas dan bakar. Dengan demikian, pemukiman pun sebagian terpusat di lereng-lereng pegunungan, yakni di daerah pedalaman Timor yang kondisi tanahnya amat kering. Itulah sebabnya orang Dawan menamakan dirinya Atoni Pah Meto yang artinya ”orang daerah kering” atau “orang tanah kering”.[7] 
           

3. Konsep Allah menurut Orang Dawan


3.1. Etimologi
Sebelum  agama masuk Kristen di pulau Timor, khususnya pada zaman penjajahan (dimulai dari Portugis, Belanda hingga zaman kemerdekaan) orang Dawan telah memiliki  satu konsep tentang yang ilahi yang sangat khas. Konsep  tentang yang ilahi dilatarbelakangi oleh pemikiran orang Dawan adanya “sesuatu” yang memiliki daya kekuatan jauh melampaui daya kekuatan manusia. Bagi orang Dawan matahari merupakan salah satu wujud, yang dianggap memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ciptaan lainnya.  Oleh karena itu Matahari disebut Uis Neno. Kata Uis artinya Raja,Tuan, Yang Empunya, sedangkan Neno artinya hari, langit. Uis Neno diartikan sebagai Dewa atau “Tuhan” yang berkuasa atas langit. Dalam tradisinya, etnis Dawan memposisikan Uis Neno lebih istimewa di antara nama dewa-dewi yang ada.[8] 

3. 2. Asal-usul Pemberian Nama Uis Neno
Uis Neno sebagai dewa tertinggi yang memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan yang berkuasa atas lagit dan bumi tidak boleh disebut secara langsung. Kepada dewa tertinggi dan maha kuasa ini diberikan nama yang tidak lain adalah sebuah atribut Uis Neno, Tuhan hari (langit).[9] Yang memberikan nama Uis Neno kepada “Tuhan-nya orang Kristen” adalah para misionaris pada waktu zaman penjajahan Portugis. Namun, di sini Uis Neno  dimengerti sebagai “raja langit”. Orang  Dawan sendiri tidak pernah menyebut Uis Neno sebagai wujud tertinggi secara langsung. Dalam upacara ritus keagamaan, nama atau sebutan Uis Neno selalu dikombinasikan dengan nama atau sebutan lain yakni uis afu atau uis naijan( raja bumi atau daratan). Kombinasi ini mau mengungkapkan cara pikir orang Dawan sebagai dualitas paralel komplementaris. Kendati demikian, sebutan-sebutan ini tidak boleh dipisahkan, melainkan selalu didahului oleh kata Uis Neno. Maka sebutan yang lazim dipakai adalah Uis Neno Uis Afu, Uis Neno Uis Naijan.[10]
Pemahaman ini tetap dipertahankan oleh etnis Dawan dengan maksud menjaga dan mengakui aspek trasendensi  dan imanensinya. Uis Neno diyakini sangat jauh, namun dekat. Kedekatannya diperlihatkan dalam alam yang diwaliki oleh dewa-dewinya. Pandangan seperti ini tentunya sangat berpengaruh terhadap cara pikir Kristen, karena Allah itu mahatinggi dan tidak bisa didekati dan tidak bisa dipandang secara langsung dengan mata manusiawi biasa. Di lain pihak, manusia merupakan makhluk biasa yang memiliki keterbatasan. Ia menjadi eksis karena di-ada-kan oleh sang Peng-ada yang Mutlak. Tanpa Dia, manusia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan tidak akan hidup. Manusia tidak pantas menyebut nama aslinya secara langsung karena merupakan hal yang tabu dan ke-eksistensiannya tidak lagi diakui secara utuh. Untuk sampai kepadanya, maka harus ada pihak kedua sebagai pengantara, yaitu para leluhur yang telah meninggal. Ada kepercayaan bahwa mereka yang telah meninggal terlibat secara langsung dan mereka yang akan menyampaikan permohonan manusia kepada yang tertinggi karena telah memperoleh kebahagiaan kekal. Masyarakat Dawan percaya pada Pah Nitu, yaitu arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia. Arwah-arwah ini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena mereka seringkali dijadikan penghubung atau perantara antara manusia dengan Uis Neno.[11]

3. 3. Atribut dan Peranan Uis Neno bagi Orang Timor
            Menurut pemahaman orang Timor Uis Neno dapat memanifestasikan atau mewahyukan dirinya di dalam air, di atas tanah, di langit, serta benda-benda alamiah lainnya yang dianggap sakral dan keramat. Dalam pemanifestasian dirinya di dunia, ada berbagai atribut yang digunakan oleh marga-marga Dawan untuk menyebut fungsi yang dimiliki oleh dewa tertinggi ini. Atribut-atribut untuk Uis Neno berkaitan erat dengan peranannya bagi manusia. Atribut-atribut yang dikenakan pada Uis Neno dan peranannya bagi manusia antara lain: [12]
  1. Apinat ma Aklahat: menyala dan membara
Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan sifat yang dimiliki oleh matahari sebagai dewa tertinggi dalam klarifikasi hirarki ketuhanan marga-marga Dawan. Dewa manas merupakan sumber cahaya yang memancarkan terang, kehangatan dan kekuatan serta memberikan kehidupan.
  1. Amoet ma Apakaet: mencipta dan membentuk
Kedua hal ini melukiskan sifat kemahakuasaan yang dimiliki dalam mencipta dan membentuk alam semesta sebagai seorang seniman terbesar. Dia-lah peng-ada mutlak yang mengadakan adaan-adaan lain, dan adaan-adaan lain itu selalu bergantung kepadanya. Sebab dia adalah perencana, pencipta, pelaksana terbaik yang tiada tandingannya dalam alam semesta. Karena itu, ciptaannya tetap suci dan dia-lah pemilik segala-galanya.
  1. Alikin ma Apean: membuka jalan dan mengatur kehidupan
Peranan Uis Neno di sini sama seperti orang tua yang memberikan “benih” kehidupan sehingga dilahirkan, memelihara, membentuk dan menuntunnya sampai sang anak dapat mandiri. Akan tetapi peranan sang dewa yang dimaksud di sini jauh melampaui pemeliharaan orang tua. Dengan kata lain, Dia-lah sumber awal dan akhir dari seluruh perjalanan manusia.
  1. Afinit ma amnanut: yang tertinggi dan mengatasi segala sesuatu’.
  2. Afe Manikin ma Oetene : pemberi kesejukan dan kedinginan (kehangatan ).
  3.  Afe tetus ma nit:  pemberi keadilan dan kebenaran’.
  4.  Abaot-afatist : yang memberi makan dan mengasuh kita.
  5.  Uis Neno Mnanu: Tuhan Yang Tinggi.
  6.  Uis Neno Pala :Tuhan Yang Dekat atau Pendek.
  7.  Uis afu ma uis naijan: raja debu dan daratan.
  8.  Uis Leu: raja yang kudus, Tuhan yang haram, yang biasanya dikaitkan dengan Uis Neno.
Atribut-atribut tersebut memiliki hubungan yang erat dengan fungsi dan peranan orang tua dalam kehidupan keluarga, khususnya dalam mendidik anak-anak. Atribut-atribut ini biasanya diperdengarkan pada saat upacara adat dalam pertemuan doa dan perayaan dalam lingkaran kehidupan dan tahunan.

3. Tradisi Fua Pah; sebuah Ritus Agraris
3.1 Pengantar
 Karakteristik suku Dawan adalah demikian banyaknya ritus keagamaan ‘asli’ yang menandai setiap kegiatan hidup mereka, sekalipun mayoritas orang Dawan sudah memeluk agama Kristiani. Salah satu tradisi ritus agraris yang masih hidup dan terus dikembangkan dalam masyarakat Dawan sampai sekarang ini adalah Tradisi Fua Pah, sebuah tradisi pemujaan roh yang dilaksanakan di tempat-tempat tertentu seperti di kebun-kebun, gunung-gunung dan bukit-bukit atau di suatu tempat yang telah ditentukan.

3.2 Pengertian Tradisi Fua Pah

 Secara etimologis, Fua pah berasal dari kata kerja Fuat artinya menyembah, bersujud, menengadah, sedangkan pah artinya, bumi, dunia, alam. Jadi, fua pah berarti menyembah bumi, dunia atau alam. Dalam kaiatan dengan dunia agraris Fua Pah  berarti meyembah tuan, raja/pemilik yang berkuasa atas bumi; dunia/alam. Maka ritus fua pah adalah upacara memberi sesajen kepada yang ilahi, pada saat membuka lahan pertanian. Tempat yang biasanya dijadikan lokasi pelaksanaan upacara Fua Pah adalah di kebun dan gunung atau bukit. Tempat-tempat ini dipandang sebagai tempat suci. Dalam pandangan berbagai suku di  nusantara, gunung memiliki sifat magis religius. Pemujaan  gunung (mountain of Lord) adalah sebuah gejala umum.[13]

3.2 Tata Ritus Fua Pah
Ritus Fua Pah biasanya dilaksanakan di tempat-tempat yang dipercaya sebagai tempat berdiam Uis Neno-Uis Pah (Tuhan, raja langit dan bumi). Tempat-tempat itu adalah gunung, bukit atau ladang. Yang diperlukan dalam acara ini: Tobe sebagai imam, hewan kurban (sapi, babi, ayam atau kambing), Muti (kalung emas orang Dawan), sirih-pinang sebagai fungsi komunikasi religius dan menjaga hubungan baik dan serasi dengan Uis Neno, dan bete dan tais (sarung orang Dawan).[14]
Ritus pemberian korban sebagai persembahan kepada Uis Neno-Uis Pah ini dilaksanakan enam kali dalam enam tahap kegiatan pertanian, mulai dari membuka kebun baru sampai dengan tahap menuai. Keenam tahap itu adalah: tahap menebas hutan (lef nono tafek hau ana),  tahap membakar hutan (polo nopo sifo nopo),  tahap menanam (lef boen no’o), tahap pertumbuhan tanaman (eka ho’e),  tahap panenan perdana (ta sana mate) dan tahap panenan berakhir (tnibun bola’if ma aen tauf).[15] 
Setiap kali dilakukan upacara ritual persembahan hewan korban kepada Uis Neno-Uis Pah,  masyarakat Dawan sudah memiliki semacam formula “doa” atau mantra untuk menaikan pujian dan syukur serta permohonan. Formula mantra ini dikenal dengan sebutan lasi tonis. Mantra diucapkan oleh seorang Tobe yang diberi kepercayaan oleh masyarakat setempat. Tobe, dalam masyarakat Dawan diyakini sebagai orang yang diberkati dan memiliki kekuatan magis religius. Tobe ini dipercaya memegang peranan utama dalam segala pelaksanaan upacara adat maupun upacara-upacara formal seremonial lainnya. Tuturan-tuturannya dianggap lebih berharga dari pada mutiara. Kata-katanya dianggap menyampaikan dan menunjukkan kebenaran.[16] Lasi tonis yang dipakai seperti yang tertulis di bawah ini.[17]
1.   Oi ….                                : O….
      Lasa net sen                                  : Maksud kami hendak persembahkan
      Tonja net sen                                 : Tutur kami hendak antarkan
      In abo sin                          : Kepada leluhurku semua
2.   An honni                           : Anak kandungmu
      An ta’o                              : Anak ciptaanmu
3.   Neno i                               : Hari ini
      Ma leku i, Lol                    : Dan saat ini, Kami menyembelih
4.   Naitnan nafuf mese                       : Kami mengambil sehelai bulu

      Haef mese                                     : Sepotong kaki

5.   Nak’kluibe neu kit                        : (Kami) arahkan  kepada kamu[18]
      Na’nakbe neu kit               : (Kami) berikan  kepada kamu
6.   Es olas i                             : Karena pada saat ini
      Nabiku nanen                    : Kami sedang mengerjakan
      Ma Na’nepe nanen                        : Kami sudah lama mengerjakannya
7.   Nane nak ni mak ane                     : Itulah nasi sudah siap
      Ma sis hana                                   : Dan lauk sudah siap
8.   Es utonim                          : Karena itu saya tuturkan
      Ma u’ latan                                    : Dan  (saya) panjatkan
9.   Nbi humak                                    : Ke hadapan muka
      Ma nbi matak                    : Dan ke depan mata
10. Hit matam mtisi kit                       : Kita bermata sempurna [19]
      Hit humam mtisi kit                      : Kita bermuka lengkap
11. Mait hit bes lultam                        : Ambillah besi tulis masing-masing[20]
      Ma hi bes pakael               : Dan besi untuk bekerja
12. Hem pakae nai                  : Supaya mulailah bekerja
      Ma hem lul nai                  : Dan mulailah menulis
13. He hik mik batikim                       : Supaya kami bagi-bagikanlah sendiri
      Ma mboa’ kim                   : Dan pisah-pisahkanlah sendiri
14. Au ‘baet ka uhin               : Saya tidak bisa membagi
      Ma au boat ka uhin                       : Saya tidak tahu memisahkan
15. Ma koa ok-oke                  : Undanglah semuanya
      Ma bonun ok-oke              : Sapalah segenapnya
16. He humam mtisi ki                        : Supaya lengkaplah sekalian
      Ma matam mtisi ki                        : Dan menjadi saksilah semuanya
17. Natuin fin pena                 : Karena bibit jagung
      Ma fin ane                                     : Dan bibit padi
18. Tonan nte                          : Tahunnya telah tiba
      Tabu nte                            : Musimnya sudah datang
19. Hen nha’taen hil poan                   : Untuk menguatkan halaman kita
      Taum ma lel abas               : Tarum dan kebun kapas
20. Hi lof es mpao neten                     : Karena kamulah yang menjaga bukit
      Ma esa mpao kobe            : Dan menjaga lembah
21. Neu anin [21]                                    : Juga angin
      Neu kolo                           : Juga burung
22. Neu sabuin                                    : Juga semut
      Ma neu kauna huma                      : Juga ular
23. Es nbi nifu                                     : Juga di kolam
      Es nbi pah                                     : Juga di bumi
24. Es Enam Mnasi                 : Juga Ibu Tua

      Es Amam Mnasi                : Juga Bapak Tua

25. Neu kolo                           : Juga burung
      Es anem usi ke mnasi                    : Yang adalah padi dan maharaja
26. Ho lof es muaib                 : Engkaulah yang melindungi
      Ma mupikab                                  : Dan menyelamatkan
27. Ho honi                             : (kami) yang kau kandung
      Ma ho ta’os                                   : Dan yang kau ciptakan
28. Muhike nfaen                                : Peliharalah kembali
      Ma mupanen nfaen                       : Selamatkanlah jua
29. Neu siufa eik kinni                        : Dari arus teluk[22]
      Ma tasi eik kinni                : Dan gelombang lautan
30. Neu siu’apun Ini               : Di tengah teluk
      Ma taes apun Ini               : Dan di tengah laut
31. Na sinkun at esna              : Itulah sarang mereka
      Ma sin bael laat es na                    : Dan itulah tempat tinggal mereka
32. Lofa hen naot then nsaon             : Nanti jalannya akan turun
      Nsanut tan nbina               : Turunnya ke sini
      Naot tan nbina                  : Jalannya di situ
33. Nabi i                                : Di sini inilah (tempatnya)
      Af’ja bnaet naen kit                      : Kemarin telah dibagikan untuk kalian
      Ma nboa naen kit              : Dan dipisahkan untuk kamu
34. Kana-kana                                     : Nama-nama (kalian)
      Lofa es es                          : Nanti masing-masing(nya)
35. Mok ho mnahat                 : Akan (mendapatkan) makananmu
      Ma mok ho bukael                        : Dan (memperoleh) perbekalanmu
36. Mok ho oel                                    : Akan (mendapatkan) airmu
      Ma ho oem ninu                : Dan (memperoleh) minumanmu
37. Lasa tuk-tuka le’i              : Maksud kami sependek ini
      Tonja pal-pala le’i              : Tuturan kami sesingkat ini
38. Thumam mtisi kit              : Atas nama kita semua
      Mata mtisi kit                    : Menjadi saksilah kamu sekalian
39. Bonunki lek-leko               : Kami mengundangmu dengan baik
      Ma kao’ki lek-leko                        : Dan kami menyapamu dengan hormat
40. Es neno i                           : Karena hari inilah
      Upoin ulael aen fini                       : Benih padi telah disiapkan
      Ma pen fini                                    : Dan benih jagung pula
41. Es poan taum                                : Di kebun tarum

      Ma lel abas                                    : Dan kebun kapas

42. Es ta’naebam                                 : Yang mengagungkan
      Ma ta latan kit                   : Dan meninggikanmu
43. Titbe lek-leko                    : Jagalah dia sebaik-baiknya
      Mpao be lek-leko              : Lindungilah dia sebaik-baiknya
44. He nat kaisa lalisan                       : Mudah-mudahan tidaklah sukar
      Ma kaisa babotu                : Dan tidak menjadi mimpi buruk
45. He nat fin pena                 : Sehingga benih jagung
      Ma fin ane                                     : Dan benih padi
46. Nat bena                            : Tumbuh berkembang menjadi rimbun
      Ma nam kauf                                 : Dan menghasilkan buah yang banyak
47. Nane natuin ni                   : Itulah sebabnya
      Ena Ama                           : Ibu dan Bapak
48. Maka lasa esna                  : (Kami) memberi pesan di situ
      Ma tonja esna                    : Dan maksud (sesajian) di sini
49. Lasa ona le’i                                  : Maksud kami hanyalah sekecil ini
      Ma tonja ona le’i               : Dan tuturan kami hanyalah sesingkat ini
50. Lasa tuk-tuka le’i              : Maksud kami hanyalah sepenggal ini
      Ma tonja pal-pale le’i                    : Dan tuturan kami hanyalah sesederhana ini.

Selesai pembacaan lasi tonis, tobe mulai menyembelih hewan kurban. Darah hewan kurban tersebut lalu dioleskan pada faot bena (batu pelat) dan pada benih tanaman atau hasil panenan, tergantung keenam tahap di atas. Daging hewan kurban tersebut kemudian di masak untuk selanjutnya dipersembahkan kepada Uis Neno-Uis Pah. Untuk jenis hewan berkaki empat seperti sapi, babi dan kambing bagian yang akan dipersembahkan adalah bagian hati dan has. Sedangkan untuk unggas misalnya ayam adalah bagian dada dan paha.  Persembahan yang berupa daging dan nasi diletakkan di atas altar, kemudian dipersembahkan kepada Uis Neno-Uis Pah dengan lasi tonis khusus. Usai pengucapan lasi tonis sajian (wajib) dimakan bersama oleh “umat” yang hadir.[23] 

4. Fungsi Ritual Fua Pah
Ritus Fua Pah sesungguhnya memiliki fungsi yang tidak sekadar berciri mistis melainkan terutama berciri sosiologis. Tradisi Fua Pah dapat dikategorikan ke dalam empat fungsi, yang terdiri dari:[24]
(1)    Fungsi Magis. Fungsi magi dikaitkan dengan penggunaan bahan-bahan dalam upacara ritual Fua Pah yang  bekerja karena daya-daya mistis. Unsur ini berkaitan dengan pelaksanaan ‘ramalan’ melalui hati hewan kurban. Tindakan ini jelas merupakan sebuah tindakan magis, dengannya manusia dapat mengetahui kehendak Uis Neno. Lebih lanjut, ritus Fua Pah bermaksud mempengaruhi kekuatan ilahi melalui rangkaian lasi tonis, agar tidak mengganggu dan merusak tanaman.
(2)    Fungsi Religius. Pelaksanaan rangkaian ritus Fua Pah  dapat dikategorikan pula sebagai sebuah tindakan religius yang jelas bersifat kreatif dan berdimensi sosial. Dalam pelaksanaan ritus Fua Pah, masyarakat suku berkumpul bersama dan secara kreatif melaksanakan upacara itu demi kepentingan bersama seluruh anggota suku. Jika kultus para leluhur, yang juga dilakukan dengan cara ini dikategorikan sebagai tindakan religius, maka Fua Pah jelas memiliki fungsi religius dan  simbol religi lokal  masyarakat Dawan. Jika diungkapkan secara radikal (sampai ke akar-akarnya), maka pelaksanaan ritus Fua Pah akan bermuara kepada kepasrahan pada Uis Neno.
(3)    Fungsi Faktitif. Fungsi faktitif berkaitan dengan meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan materi suatu kelompok. Ritus Fua Pah jelas merupakan suatu tindakan faktitif dengan motivasi meningkatkan kesejahteraan material anggota suku. Fungsi ini tidak saja diwujudkan lewat korban untuk para leluhur dan pelaksanaan magi, namun juga pelaksanaan tindakan yang diwajibkan oleh anggota kelompok dalam konteks peranan sekular mereka.
(4)    Fungsi Intensifikasi. Fungsi Intensifikasi berkaitan dengan ritus kelompok yang mengarah kepada pembaharuan dan mengintensifkan kesuburan, ketersediaan buruan dan panenan. Pelaksanaan ritus Fua Pah terutama dilandasi oleh motivasi intensifikasi, karena masyarakat menginginkan panenan berhasil. 

5. Rangkuman
            Masyarakat Dawan merupakan masyarakat yang secara tradisional memiliki bakat-bakat religius. Sebagai masyarakat petani dengan lingkungan alam yang kering dan tandus, percaya sepenuhnya pada kekuatan dan campur tangan roh-roh ilahi, yakni Uis Neno-Uis Pah.
Ritus, mitos, religi dan sastra lisan (tonis) merupakan satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat berdiri sendiri. Dalam masyarakat Dawan, puisi ritual tonis itu memiliki konvensi dan formula yang diikuti dengan ketat, sehingga penyimpangan dari konvensi itu dapat menodai akibat dari magi. Kekuatan magis dalam upacara Fua Pah masyarakat Dawan terletak pada lasi tonis.
Sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan hidup masyarakat Dawan yang umumnya merupakan petani ladang kering dengan sistem ‘tebas-bakar,’ ritus Fua Pah diciptakan sebagai cara mereka menyiasati alam yang gersang dan iklim yang kurang bersahabat. Dalam setiap rangkaian upacara pertanian sesuai dengan saat-saat kritis pertumbuhan tanaman, yakni: tahap menebas hutan, tahap membakar hutan, tahap menanam, tahap pertumbuhan padi, tahap panen perdana, dan tahap panen akhir, mereka melaksanakan upacara korban Fua Pah. Ritus ini memiliki fungsi dan berkaitan erat dengan puisi ritual tonis yang justru merupakan inti kekuatan magis upacara ritual Fua Pah. Ritus Fua Pah memiliki empat fungsi utama, yakni: fungsi magis, fungsi religius, fungsi faktitif, dan fungsi intensifikasi.
 

6. Refleksi Kritis; Fua Pah dalam Kaitannya dengan Kepercayaan Orang Dawan dan Kekristenan

Sekalipun mayoritas masyarakat Dawan sudah memeluk agama Kristiani sebagai sebuah agama monotheis modern dan universal, kepercayaan lokalnya masih dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu sungguh beralasan karena sebelum kedatangan dan kehadiran agama Kristen, masyarakat Dawan sudah memiliki kepercayaan dan pemujaan terhadap wujud tertinggi dan leluhurnya.
            Masyarakat Dawan memuja Uis Neno yang berarti Tuhan Langit. Uis Neno ini digambarkan sebagai apinat-aklaat atau ‘yang bernyala dan membara’, dan afinit-amnanut yang artinya ‘yang tertinggi dan mengatasi segala sesuatu’. Uis Neno juga dipercaya sebagai pemberi manikin-oetene atau ‘kesejukan dan kedinginan’. Dialah pemberi tetus ma nit ‘keadilan dan kebenaran’. Di samping itu dia dianggap sebagai dewa kesuburan yang mengatur musim, memberi padi dan jagung serta mengatur alam. Uis Neno berperan pula sebagai apaot-afatis artinya ‘yang memberi makan dan mengasuh’, amo’et-apakaet artinya ‘yang membuat dan yang mengukir’(mencipta). Akan tetapi Uis Neno juga dipercaya dapat mendatangkan kemarau panjang yang mengakibatkan tanaman mati dan dapat juga mendatangkan hama penyakit atas tanaman dan ternak serta atas diri manusia. Ilustrasi ini memperlihatkan bahwa Uis Neno merupakan sang pencipta, sang penyelenggara, dan maha kuasa. Uis Neno dipercaya memiliki dua wujud, yakni Uis Neno Mnanu artinya “Tuhan Yang Tinggi” dan Uis Neno Pala atau “Tuhan Yang Dekat (pendek)”.  Akan tetapi, keduanya masih diklasifikasikan sebagai Tuhan Langit.[25]
            Selain Tuhan Langit, masyarakat Dawan juga mengakui adanya Tuhan Bumi atau Penguasa Alam Semesta. Tuhan Bumi ini disebut Pah Tuaf atau Uis Pah. (Pah artinya bumi, dunia, atau alam). Uis Neno dan Uis Pah diakui membentuk kekuatan ilahi, namun superioritas Uis Neno tetap nyata. Keduanya memang berbeda, dan mempunyai eksistensinya masing-masing akan tetapi satu sama lain tidak dapat dipisahkan.Uis Pah  dianggap sebagai pembawa ketakberuntungan dan malapetaka bagi manusia. Oleh karena itu manusia harus berusaha mengambil hati mereka dengan upacara-upacara ritual. Bersama Pah Nitu (roh atau dunia orang mati) Uis Pah diyakini meraja di dunia dan tinggal di hutan, batu-batu karang, mata air, pohon-pohon besar dan gunung-gunung.
            Masyarakat Dawan juga percaya pada Pah Nitu yaitu arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia. Arwah-arwah ini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena mereka seringkali dijadikan penghubung atau perantara antara manusia dengan Uis Neno. Mereka percaya juga pada Uis Leu yakni raja yang kudus, Tuhan yang haram, yang biasanya dikaitkan dengan Uis Neno.
Uis Pah atau Pah Tuaf adalah makhluk halus yang dianggap merugikan manusia, sehingga sebagian masyarakat Dawan menyebutnya sebagai setan. Uis Pah ini diyakini bertempat tinggal di pohon-pohon, batu-batu besar, sungai-sungai, serta tempat-tempat tertentu di sekitar kediaman manusia. Untuk mengambil hati dan menghindari kemarahan Pah Tuaf, masyarakat Dawan seringkali memberikan berbagai korban persembahan dalam upacara adat yang disebut Fua Pah. Upacara Fua Pah merupakan sebuah tradisi pemujaan kepada Uis Pah (Raja Dunia, Sang Penguasa Tanah dan makhluk di atas alam raya yang dianggap menyimpan kekuatan jahat atau kekuatan setan) dengan cara memberikan sesaji berupa hewan korban.
Tradisi pemujaan Fua Pah sampai sekarang masih hidup dan berkembang dalam masyarakat tradisional Dawan. Tradisi ini telah menjadi semacam simbol konstitutif (yang membentuk kepercayaan-kepercayaan), simbol kognitif (yang membentuk ilmu pengetahuan), simbol penilaian moral (yang membentuk nilai-nilai moral dan aturan-aturan), dan simbol-simbol ekspresif (pengungkapan perasaan). Sebagai sebuah sistem simbol, tradisi ini memuat berbagai makna yang penting bagi masyarakat Dawan.  
Tradisi Fua Pah ini memiliki nilai filosofis dan teologis yang dalam bagi masyarakat Dawan. Nilai filosofinya adalah untuk menyejahterakan masyarakat sedangkan nilai teologisnya adalah menjalin hubungan yang baik dengan sang penguasa langit dan bumi yang dalam pengertian agama tradisional adalah Uis Neno-Uis Pah (Tuhan langit dan bumi).

Sejak masuknya kekristenan, paham tradisional tentang Uis Neno telah mengalami pergeseran nilai dan arti. Uis Neno tidak lagi dimengerti sebagai dewa “tertinggi langit-matahari” tetapi sebagai Allah yang sesungguhnya, sebagaimana Allah orang Kristen. Kehadiran Agama Kristiani tidak meniadakan konsep tradisional ini, tetapi dimurnikan. Pengertian akan Uis Neno lebih mengacu kepada seorang pribadi yang sangat Agung, mulia dan sangat berpengaruh terhadap hidup manusia, Dialah  Allah. Dia-lah pencipta lagit dan bumi. Allah selalu menjaga agar manusia tidak jatuh dalam cobaan (malapetaka), maka dalam hidupnya manusia harus menjalin relasi yang harmonis dengan-Nya, yang diyakini sebagai dan tujuan hidup dari semua makhluk ciptaaan.  Di sisi lain, dengan menyebut nama Uis Neno, secara implisit terkandung suatu seruan dan ajakan kepada manusia agar manusia memuji, bersyukur dan berterima kasih atas segala kebaikan dan kemurahan yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepada manusia.

Berkaitan  dengan proses penciptaan, orang Timor meyakini bahwa Uis Neno merupakan sang Pencipta. Konsep dalam mitos tidak menghalangi pemahaman tentang kisah penciptaan. Uis Neno amoet ma apakaet dipahami sebagai sumber “Peng-ada yang mengadakan peng-ada-peng-ada lain. Adaan-adaan yang lain menjadi ada, karena ditopang oleh ada yang Mutlak ini. Jadi adaan-adaan yang lain selalu mengambil bagian dalam ada-Nya Yang Mutlak ini. Namun konsep akan Ada yang Mutlak dalam kepercayaan tradisional, khususnya etnis Dawan masih sangat primitif dan bersifat alamiah; artinya konsep pemahaman mereka akan Allah kadang juga dipengaruhi oleh tanda atau peristiwa-peristiwa alam, sehingga tidak heran bila dalam ritus keagamaan hal itu terungkap dalam bentuk pemberian sesajen di bawah pohon besar, bukit, batu besar dan lain sebagainya.  Kenyataan tentunya merupakan suatu tantangan bagi orang Timor. Diharapkan fungsi dan peran Gereja setempat mampu mengakomodasi masalah religiositas ini sehingga antara adat dan Gereja tidak saling meniadakan tetapi saling mendukung. Iman akan Kristus yang bangkit, diharapkan tetap menjadi dasar. Adat atau tradisi setempat hendaknya menjadi jalan lain untuk sampai kepada Kristus atau menghantar manusia pada jalan kebenaran dan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 














[1] Fua Pah merupakan suatu ritus penyembahan orang dawan terhadap Wujud Tertinggi. Mengenai tradisi ini akan dibahas pada bagian 3 makalah ini.

                [2] Arti kata dawan dimengerti dalam beberapa versi. 1). Dawan sering diidentikan dengan pegunungan dan pedalaman berdasarkan lokasi dan tempat tinggal orang Dawan. 2). Kata dawan merupakan istilah yang dimodifikasi dari kata Jawa (Djawa) menjadi dawa. Menurut salah satu informasi, suku Dawan adalah pendatang dari pulau Jawa. Bukti insformasi ini adalah bahwa sekitar abad ke-13, raja-raja Timor berperang melawan kerajaan Majapahit di Jawa Timur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan pulau Timor. [Lihat Andreas Tefa Sawu, Di bawah Naungan Gunung Mutis (Ende: Nusa Indah, 2004), hlm. 15-16.]  

[3] Richard Dashbach, “Ambeno: Bagaimana Rupamu Doeloe”, dalam P. Piet Manehat, SVD dan P. Gregor Neonbasu, SVD, Agenda Budaya Pulau Timor 2 (Atambua: Komisi Komunikasi Sosial Provinsi SVD Timor, 1992), hlm. 42.

[4] Mubyarto, dkk. Etos Kerja dan Kohesi Sosial Masyarakat Sumba, Rote, Sabu,dan Timor Propinsi Nusa Tenggara Timur (Yogyakarta: P3PK UGM, 1991), hlm. 5.

[5] Alexander Un Usfinit, Maubes-Insana: Salah Satu Masyarakat di Timor dengan Struktur Adat yang Unik (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 8; Bdk. A.D.M Pareira, Sejarah Raja-raja Timor (Jakarata: Sinar Harapan, 1997), hlm. 44.

[6] Alexander Un Usfinit, Maubes-Insana …, hlm. 5-6; Bdk. JamesJ.Fox, Bahasa, Sastra dan Sejarah: Kumpuln Karangan Mengenai Masyarakat Pulau Roti (Jakarta:Djambatan, 1986), hlm.3-4.

[7] Mubyarto, dkk. Etos Kerja…, hlm. 130.
[8]  Andreas Tefa Sawu , Di bawah Naungan Gunung Mutis (Nusa Indah: Ende, 2004), hlm. 107.

[9] Andreas Tefa Sawu , Di bawah …, hlm. 101.

[10] Andreas Tefa Sawu , Di bawah …, hlm. 103.
[11] Andreas Tefa Sawu, Di bawah…, hlm. 113.

[12] Andreas Tefa Sawu, Di bawah…, hlm. 105-108.
[13] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1995). Hlm. 175-176.

[14] P. Nikolaus Seran, SVD, “Nilai Sirih-Pinang dalam Komunikasi Harian” ,dalam dalam P. Piet Manehat, SVD dan P. Gregor Neonbasu, SVD, Agenda (2) …, hlm. 132-133.

[15] Alexander Un Usfinit, Maubes-Insana …, hlm. 24.

[16] Tarno, dkk.,   Sastra Lisan Dawan. (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1993). Hlm. 16.
[17] Dituturkan secara langsung oleh Tokoh adat Tobe Berkanis Taninas dan diterjemahkan oleh Salvinus Eko. Teks ini dikirimkan dari Timor. Mpao artinya doa permohonan agar kebun dan tanaman dijaga dan dilindungi.

[18]  Nak’kluibe neu kit ma Na’nakbe neu kit: Arahkanlah  kepada kamu dan Berikanlah  kepada kamu. Terjemahan ini adalah terjemahan bebas. Terjemahan harfiahnya adalah: Arahkanlah kepada kita. Berikanlah kepada kita. Dalam bahasa Dawan, Kit “kita” seringkali digunakan untuk menyebut atau menyapa orang yang lebih tinggi kedudukannya, orang yang dihormati. Dalam kaitannya dengan teks ini, hewan kurban itu dipersembahkan kepada Fua Pah, sang penguasa alam.
[19] Hit matam mtisi kit ma Hit humam mtisi kit: Kita bermata lengkap dan Kita bermuka lengkap artinya semua suku dan kerabat benar-benar terwakili secara lengkap, tanpa kecuali,  tak kurang dan tak lebih, makanan dan minuman pun sudah tersedia dihadapan kita.

[20] Mait hit bes lultam-Ma hi bes pakael: Ambillah besi tulis masing-masing//Dan besi untuk bekerja. Ungkapan ini adalah pendorong semangat kerja anggota suku tersebut, untuk bekerja sungguh-sungguh dan penuh semangat.

[21] Anin (angin), Kolo (burung), Sabuin (semut), Kauna huma-huma (bermacam-macam ular) adalah sumber datangnya gangguan pertanian. Fua Pah diminta menghalau dan melindungi tanaman dari gangguan mereka

[22] Bait 29 dan 30 membawa pesan penting, yang mengungkapkan tentang ‘arus teluk atau gelombang laut’, ‘di tengah teluk atau di tengah laut’. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan konsep tentang ‘mitos genealogis’, yang bagi masyarakat primitif, pengungkapannya mendatangkan kekuatan yang besar bagi anggota sukunya. Bait-bait ini mengingatkan kembali para leluhur tentang perjuangan mereka dalam mengarungi lautan ketika bermigrasi menuju lokasi tinggal sekarang ini. Pada umumnya masyarakat di Timor, Sumba dan Flores masih mengingat kisah-kisah kedatangan leluhur mereka yang telah melawati gelombang lautan dari seberang. Jika mengingat sejarah tersebut, para leluhur tentu bersemangat untuk mengusir perusak-perusak tanaman: angin, burung, semut dan ular beludak. 


[23] Alexander Un Usfinit, Maubes-Insana …, hlm. 25.

[24] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 175-176.
 

[25] Mubyarto, dkk. Etos Kerja…, hlm. 152-153.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar